Leena, yang sejak tadi memperhatikan, menggelengkan kepala dan berkata dengan tenang, "Tidak semudah itu, Lala. Hanya Lynx yang bisa menggunakannya. Cincin itu memerlukan energi khusus untuk menggunakannya. Dan, sejauh yang aku tahu, di dimensi ini tidak ada orang lain selain Lynx yang bisa menyerap energi alam."

"Astaga, aku hampir lupa!" seru Lala tiba-tiba, wajahnya berubah serius. "Aku datang buru-buru ke sini karena ada sesuatu yang sangat penting yang harus kusampaikan kepada kalian. Ini tentang surat peninggalan ayahku, Profesor Milo, dan hal ini berhubungan dengan kekuatan yang kamu miliki, Lynx."

Lynx dan Leena langsung memasang ekspresi serius, menunggu Lala melanjutkan ceritanya.

"Surat itu... kalian pasti sudah membaca bagian tentang pil yang kamu minum, bukan?" Lala memulai ceritanya sambil menatap Lynx.

Lynx menundukkan kepala dengan rasa bersalah. "Maafkan aku, Lala. Aku tahu pil itu sebenarnya dibuat untukmu. Tapi... justru aku yang meminumnya. Seharusnya kamu yang mendapatkan kekuatan ini," ujarnya penuh penyesalan.

Lala menggeleng cepat, menepis kekhawatiran Lynx. "Tidak, Lynx. Justru kamu adalah orang yang paling cocok. Kamu selalu membantu siapa saja, bahkan orang yang tidak kamu kenal, dan kamu sangat pemberani. Kamu orang yang baik," katanya tegas.

Lala menarik napas, lalu melanjutkan. "Namun, ada hal lain yang lebih penting. Surat berikutnya yang kutemukan, aku yakin kalian tidak bisa memahaminya, ditulis dalam bahasa kuno, mirip dengan tulisan di dinding yang pernah kalian ceritakan agar tidak semua orang bisa membacanya. Surat itu berisi formula untuk menciptakan pil itu lagi."

Lynx dan Leena saling berpandangan, terkejut mendengar informasi tersebut. "Jadi kamu bisa membuat pil itu lagi?" tanya Lynx, setengah tidak percaya.

Lala menggeleng, wajahnya berubah serius. "Tidak semudah itu. Ayah menggunakan bahan genetika dari beberapa sel makhluk asing sebagai bahan utama pembuatan pil itu," katanya.

"Makhluk asing? Maksudmu alien?" tanya Leena, matanya membesar.

"Iya, semacam itu," jawab Lala. "Salah satu makhluk asing itu pernah tinggal di tempat kami ratusan tahun yang lalu. Mereka berasal dari planet yang sudah hancur, dan memiliki berbagai kekuatan luar biasa, kecepatan, kekuatan fisik, dan kemampuan lainnya. Entah bagaimana ayah berhasil mendapatkan sel genetikanya."

Lala berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Selain itu, ayah juga menggunakan sel makhluk dari salah satu dimensi yang secara tidak sengaja ia temukan ketika bereksperimen dengan mesin dimensi. Makhluk itu memiliki genetika yang aneh. Mereka suka bertempur, bisa sembuh dengan cepat, dan setiap kali bertahan dari bahaya, kekuatan mereka justru meningkat."

Lynx mengernyitkan dahi. "Jadi itu sebabnya kekuatanku selalu terasa meningkat setiap kali mengalami pertempuran hidup mati." batinnya.

"Kenapa ayahmu melakukan semua itu?" tanya Lynx, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.

"Dunia kami mulai dipenuhi metahuman, manusia yang memiliki kekuatan super," jelas Lala. "Namun, kebanyakan dari mereka justru menjadi ancaman. Mereka sering membuat kekacauan dan banyak korban jiwa setiap kali kami mencoba menghentikan mereka. Ayahku menciptakan pil itu untuk menciptakan manusia yang cukup kuat untuk menghadapi para metahuman itu. Tapi pil itu hanya tidak semua orang bisa menggunakan."

Leena, yang tampak khawatir, segera bertanya, "Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apakah kamu akan melanjutkan penelitian itu? Aku tidak bisa membayangkan dunia dengan lebih banyak manusia seperti Lynx, apalagi jika mereka berbuat kejahatan."

Lala tersenyum kecil. "Seperti yang kukatakan tadi, untuk membuat pil itu diperlukan sel genetika dari makhluk-makhluk tersebut. Tapi ayah sebenarnya sudah meninggalkan catatan untuk membuat pil serupa dengan cara lain. Namun..." Lala berhenti sejenak, melihat ekspresi penasaran Lynx dan Leena.

"Aku sudah membakar catatan itu," katanya sambil terkekeh.

"Membakarnya?" Leena dan Lynx berseru hampir bersamaan, tidak percaya. "Kamu datang sejauh ini demi penelitian itu, dan sekarang kamu menghancurkannya?"

Lala mengangkat bahu. "Aku kemari untuk mencari ayahku, bukan untuk melanjutkan penelitiannya. Di dunia asalku, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sekarang, kalian adalah keluargaku. Aku tidak ingin ada yang menyalahgunakan penelitian itu dan menyakiti keluargaku di masa depan," katanya tegas.

Leena yang tersentuh mendengar kata-kata itu segera memeluk Lala erat. "Kamu benar-benar luar biasa, Lala," katanya lembut.

Sementara itu, Lynx hanya tersenyum kecil melihat keakraban mereka. Tapi pikirannya melayang sejenak, mengingat kejadian ciumannya dengan Lala yang sempat dilihat oleh Leena. "Untung mereka tidak membahas itu," batinnya lega.

Namun, Lala kembali berbicara, memecah lamunan Lynx. "Selain penelitian, ada satu hal lagi yang diceritakan ayahku, alat portal dimensi yang ia bawa ke sini." Ia menunjukkan cincin di jarinya. "Cincin ini adalah kunci untuk mengaktifkan portal itu, dan alat itu hanya bisa digunakan satu kali. Tapi sayangnya..." Lala menghentikan kalimatnya, ragu.

"Sayangnya kenapa, Lala?" tanya Leena penasaran.

"Portal itu hanya bisa membawa satu orang saja," jawab Lala, suaranya terdengar kesal. "Jadi aku tidak berminat lagi untuk mencarinya. Apa gunanya jika hanya aku yang bisa keluar, sementara kalian tetap di sini?"

Tubuh Lynx mendadak menegang, bulu kuduknya berdiri ketika hawa mencekam mulai terasa dari arah timur.  Lynx berdiri tegak, matanya menyipit tajam menatap cakrawala timur.

"Bersiaplah," ujarnya dengan suara rendah dan tegas, memecah keheningan. "Ada bahaya yang mendekat!"

Lala dan Leena menoleh dengan cepat, wajah mereka penuh kebingungan. Lala membuka mulut hendak bertanya, tetapi Lynx melanjutkan, "Lala, segera beritahu seluruh penduduk. Mereka harus waspada sekarang juga!"

Lala tertegun sejenak. "Apa yang sebenarnya terjadi, Lynx? Kau membuatku khawatir," tanya Leena, suaranya bergetar. Ia tanpa sadar mencengkeram lengan Lynx, mencoba mencari ketenangan dalam kehadirannya.

Lynx menoleh padanya, ekspresinya penuh kewaspadaan. "Aku tidak tahu pasti, Leena, tapi instingku tidak pernah salah. Ada sesuatu, entah apa, yang membawa bahaya besar. Aku bisa merasakannya. Cepat atau lambat, itu akan sampai di sini." Energi alam di sekeliling tubuhnya mulai bergejolak, memancar dengan intensitas yang terasa bahkan oleh Leena.

"Lala, jangan buang waktu!" seru Lynx tegas, nadanya menuntut tindakan segera. "Pergilah sekarang juga dan beri tahu semua penduduk!"

Meski masih kebingungan, Lala mengangguk cepat. Ia segera berbalik dan berlari menuju tengah kampung, melewati jalan setapak dengan napas terengah-engah. Begitu sampai, ia langsung menemui para tetua, menyampaikan pesan Lynx dengan nada mendesak.

Para tetua, yang telah lama besiap  jika terjadi bahaya, hanya butuh beberapa detik untuk memutuskan. Mereka segera membunyikan lonceng tanda bahaya yang dibuat oleh Kael dan Lala, suara nyaringnya menggema di seluruh desa.

Penduduk mulai berlarian, berkumpul di lapangan utama sesuai instruksi, ekspresi mereka penuh dengan kecemasan. Anak-anak digiring ke tempat perlindungan sementara para lelaki bersenjata sederhana mengambil posisi siaga. Ketegangan semakin terasa, seperti ketenangan sebelum badai besar menghantam.

Sementara itu, Lynx tetap berdiri diam, matanya terpaku ke arah cakrawala, rahangnya mengeras. Ia tahu sesuatu sedang mendekat, dan ia harus bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Tak lama kemudian, dari arah timur, sosok Leluhur Monrest muncul dengan kilatan energi yang mengoyak langit. Dengan seringai dingin, ia melayang mendekat ke kampung Surya, auranya yang menekan membuat udara terasa berat.

"Anak muda, kita bertemu lagi," kata Monrest, suaranya bergema, penuh wibawa yang menggetarkan jiwa. Tubuhnya yang melayang tampak bagaikan hantu yang nyata, hadir dengan energi yang mengancam.

Leena, yang berdiri di samping Lynx, merasa tubuhnya mendadak dingin. Ia memegang lengan Lynx dengan gemetar. "Siapa dia, Lynx?" bisiknya cemas, matanya tak lepas dari pria misterius itu. Aura mencekam yang menguar dari Monrest membuat instingnya menjerit bahaya.

Lynx tidak menjawab langsung. Matanya yang tajam tidak lepas dari Monrest, memperhatikan setiap gerakannya dengan penuh kewaspadaan. "Kau..." katanya perlahan, suaranya rendah namun penuh ketegasan. "Jadi kau yang merasuki Rayden waktu itu?"

Leena menoleh ke Lynx dengan bingung. "Merasuki? Apa maksudmu, Lynx?" tanyanya dengan nada penuh kebingungan.

Lynx masih tidak mengalihkan pandangannya dari Monrest. "Waktu itu, Rayden tiba-tiba memiliki kekuatan yang tidak wajar, dan sikapnya berubah drastis. Menjadi lebih kuat meski tanpa wujud mutasinya. Dia dirasuki, dan sekarang aku tahu oleh siapa," jelas Lynx dengan dingin. Tangannya perlahan bergerak ke arah cincin penyimpanan di jari manis kirinya, bersiap untuk apa pun.

